Rabu, 30 April 2008

Hade, Realitas Baru Politik Jabar

Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf memang luar biasa! Meski tidak diunggulkan dalam Pilgub Jabar, pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur (cagub-cawagub) yang mengakronimkan diri dengan nama Hade itu justru menang meyakinkan.

Lantas, apa kunci utama kemenangan Hade serta kekalahan Da’i dan Aman pada pilgub yang pertama kali dipilih rakyat tersebut? Jawabannya tentu bukanlah dana politik dan popularitas. Dana politik Hade jelas berada di level bawah dua pesaing politiknya. Sementara popularitas Hade yang disebut-sebut terletak pada figur Dede Yusuf yang merupakan artis ibu kota dan bintang iklan obat sakit kepala tersebut relatif sama kuat dengan popularitas pasangan Da’i yang terletak pada figur incumbent Danny Setiawan dan pasangan Aman yang terletak pada figur tokoh nasional Agum Gumelar.

Kunci kemenangan Hade sesungguhnya berada pada kesolidan mesin politiknya. Dua parpol pendukung Hade yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) tampaknya paling siap memelihara konsistensinya dalam membangun kesolidan tim suksesnya sejak berkoalisi hingga detik-detik yang sangat menentukan di hari pencoblosan.

Kesolidan mesin politik Hade boleh jadi tidak lepas dari faktor latar belakang keduanya yang sama-sama merupakan kader tulen parpol pengusungnya. Secara kebetulan pula, parpol pengusungnya memiliki basis massa yang sealiran. Akar rumput PKS adalah masyarakat Islam perkotaan, sedangkan basis massa PAN adalah Muhammadiyah yang memiliki kantor cabang hingga daerah-daerah.

Sebaliknya, pasangan Da’i dan Aman, sekalipun didukung parpol-parpol besar dengan jumlah kursi DPRD Jabar yang sangat signifikan, justru tak mendapat dukungan mesin politik yang kuat. Rapuhnya mesin politik Da’i dan Aman bukanlah karena menyeberangnya sumber daya politik yang dimilikinya ke parpol lain, tapi karena dukungan setengah hati elite parpol pengusungnya yang diikuti massa pendukungnya. Fenomena itu tampaknya dipicu oleh kekeliruan dalam memilih pasangan cagub/cawagub nonkader akibat terlalu percaya dirinya elite parpol pusat dalam menentukan pilihan politiknya.

Koalisi Partai Golkar (PG) dan Partai Demokrat (PD) yang mengusung Da’i tak mampu menampilkan dirinya sebagai mesin politik yang sangat solid karena faktor cawagub nonkader Iwan Sulanjana yang tak terlalu mendapat hati dari Ketua DPD PD Jabar Ajeng Ratna Suminar.

Hal itu tak lepas dari terhambatnya keinginan Ajeng menjadi cawagub--untuk bersanding dengan Danny Setiawan--yang disebut-sebut tak mendapat restu dari elite DPP PD. Padahal, untuk mencapai keinginannya tersebut, Ajeng disebut-sebut sudah menghabiskan dana politik yang tidak kecil. Ajeng tentu harus menyatakan manut pada kehendak politik atasannya. Masalahnya, kekecewaan massa akar rumput tak bisa dengan mudah diobati begitu saja.

Begitu pula massa akar rumput PDIP yang berkoalisi dengan PPP, PBB, PDS, dan beberapa parpol kecil--yang disebut-sebut sebagai koalisi tidak ideologis karena beragamnya aliran politik--menjadi meradang ketika cagub yang direstui elite DPP PDIP adalah Agum Gumelar yang merupakan figur nonkader. Ketua DPD PDIP Jabar Rudi Harsa Tanaya yang jauh-jauh hari sudah disiapkan menjadi cagub/cawagub, bahkan sudah mendapat SK cagub dari DPP PDIP, harus kandas hanya karena SK susulan yang menetapkan pasangan Aman. Sebagai parpol dengan jumlah kursi DPRD Jabar dan basis massa yang sangat banyak, PDIP semestinya mencalonkan kadernya untuk menjadi cagub/cawagub, bukan nama Agum yang sama sekali tidak ada dalam kamus PDIP. Hal itu sangat mungkin menjadi sebab berkurangnya dukungan massa PDIP terhadap Aman.

Jalan baru politik

Kemenangan Hade mencatat beberapa indikasi penting bagi dinamika politik masyarakat Jabar yang tidak ditemui sebelumnya.

Pertama, sebagian besar masyarakat Jabar kali ini tampaknya tak menginginkan incumbent. Kemenangan incumbent pada beberapa pilkada kabupaten di Jabar ternyata tak berbanding lurus dengan Pilgub Jabar.

Kedua, sebagian besar masyarakat Jabar tampaknya kini tak lagi menginginkan kepemimpinan Jabar dipegang oleh figur berlatar belakang militer. Sebagai bukti, kepemimpinan Iwan Sulanjana dan Agum Gumelar yang masing-masing teruji di lingkungan ketentaraan tak cukup meyakinkan masyarakat Jabar untuk memilih dirinya dalam pilgub. Ini sungguh mengherankan mengingat isu sipil versus militer nyaris tak terdengar selama menuju hari pencoblosan Pilgub Jabar.

Ketiga, sebagian besar masyarakat Jabar sekarang tampaknya sudah mulai meninggalkan parpol-parpol warisan Orde Baru (Orba) sebagai pilihan politiknya. Sebaliknya, parpol-parpol yang tumbuh di era reformasi berbasis massa Islam seperti PKS dan PAN yang mengusung Hade diyakini sebagai pilihan terbaiknya. Kewibawaan PG yang mengusung Da’i dan karisma PDIP (wajah baru PDI) dan PPP yang mengusung Aman tampaknya mulai luntur terkikis zaman. Gejala ini boleh jadi dipicu perilaku tak terpuji para anggota dewan yang berasal dari ketiga parpol tersebut.

Keempat, sebagian besar masyarakat sepertinya tidak lagi menyukai kepemimpinan Jabar dipegang figur dari kalangan tua. Sebagai alternatifnya, kini figur muda menjadi pilihan politiknya. Secara kebetulan, pada Pilgub Jabar ini, figur muda terletak pada pasangan Hade. Alhasil, figur tua yang direpresentasikan oleh dua pasangan saingannya tak mendapat tempat di hati sebagian besar masyarakat Jabar.

Anda boleh ragu kalau kemenangan Hade memiliki keterkaitan langsung dengan empat indikasi politik tersebut. Anda pun boleh bersikap sinis dan berkeyakinan kalau kemenangan Hade diraih secara kebetulan. Akan tetapi, ini realitas politik yang memiliki kekuatan legitimasi rakyat yang tak bisa diganggu gugat siapa pun. Kemenangan Hade justru harus dipahami semua elemen masyarakat sebagai momentum pembuka jalan baru politik Jabar.

Tidak ada komentar: