Pergumulan Filsafat dan Agama
Oleh : Irfan Hakiem Al-Gharuty *
Sumber : http://www.persis.or.id/site/modules.php?name=News&file=article&sid=355
Agama (Islam) yang sering kita gembar gemborkan sejak kedatangan nabi Muhammad Saw "utusan Allah" sampai sekarang adalah menjaga keorisinilan ajaran Islam untuk bisa terimplementasikan dalam sebuah tatanan kehidupan manusia di bumi ini. Namun penulis sedikit bertanya mengapa sebelum masehi muncul berbagai ilmuwan yang sedikit tenggelam dari perhatian manusia, bisa disebut para filosof seperti halnya, Socrates sebagai filososf etika dan estetika, yang mengajarkan manusia untuk hidup bermoral (beretika) sehingga ajaran-ajaran beliau banyak dipakai orang banyak dalam menemukan kebenaran yang mutlak (absolutisisme), adapun Plato sebagai murid socrates mengajarkan manusia untuk berfilsafat sosial (baca:dalam karyanya the republique), sedangkan Aristoteles adalah sosok filosof yang menggagas tentang pembangunan masyarakat, dan ikut urun rembuk dalam menciptakan sebuah negara yang ideal (baca:dalam karyanya the politique), ketiga tokoh tersebut mempunyai andil yang besar dalam menata masyarakat, ide-ide mereka tentang politik, moral, sosial dan lain sebagainya sangat refresentatif bagi umat seterusnya.
Dan orang Barat pun mensejajarkan Socrates dengan para nabi, sebagimana dikatakan Abu Yusuf Ya'qub al-Kindi bahwa "kebenaran yang dicari para filosof tidak berbeda dengan kebenaran yang disampaikan oleh para nabi kepada umat manusia", artinya, kebenaran yang digagas melalui rasionalisme para filosof sama saja dengan apa yang dibawakan oleh para nabi yang menerima syari'at (ajaran) secara tekstual dari Tuhan-Nya.
Kehadiran filsafat saat agama berada di puncak kepercayaan ummat membuat sebagian komunitas extrimis mengharamkan untuk mempelajari filsafat, dengan alasan bahwa filsafat akan merusak akal manusia, filsafat akan mengikis habis kebenaran-kebenaran ajaran Islam, dan filsafat akan menjadikan seseorang tidak beragama, (majalah salafy, filsafat merusak akal). Padahal asumsi ini masih tetap berada dalam perdebatan yang hangat, seperti Abu Bakr al-Razi berkata bahwa "kedatangan para Nabi itu suatu hal yang berlebihan karena dengan akal pun kita akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk" yang mengakibatkan beliau dipenjara dan dihukum mati, maka semua ini telah menjadi polemik yang besar dari dulu sampai sekarang dalam tubuh ummat Islam dalam mempelajri filsafat.
Menyoroti polemik tersebut, penulis hanya dapat menuangkan berbagai pemikiran mereka tentang subyektifitas masing-masing, bahwa permasalahan yang sebenarnya bertitik tolak kepada kita semua, sejauh mana kita akan memahami kedudukan filsafat dalam Islam, dan siapa yang membawakan Islam dan filsafat. Dari sini kita akan tahu darimana awal mula datangnya filsafat dan Islam, sebagian mempunyai asumsi bahwa antara filsafat dan Islam bagaikan air dan minyak yang tak akan bisa bersatu untuk selamanya. Maka mengapa kita harus berfilsafat dan mengapa kita harus ber-agama?.
Antara filsafat dan agama
Islam adalah agama langit (samawi) yang diturunkan melalui Jibril untuk bisa dipahami dan diterima dengan sempurna oleh nabi Muhammad sekaligus disampaikan kepada manusia, dan semua sepakat bahwa nabi Muhammad adalah satu-satunya nabi terakhir yang mendapatkan wahyu (al-Quran) dari Tuhan semesta alam. Siapa saja yang mengingkari kenabian Muhammad maka sungguh dia berada di jalan yang sesat.
Al-Quran sebagai teks yang hidup sepanjang masa dan menjadi keagungan ummat Islam, Bahwa tak seorang pun yang dapat merubah keorisinilan teks tersebut, dan Muhammad sebagai Rasulullah (utusan Allah) mempunyai peran penting dalam Islam yaitu menginterpretasikan uslub-uslub al-Quran yang kiranya masih tertulis secara global, maka pedoman kedua yang menjadi penjelas bagi al-Quran adalah as-Sunnah. Dari sini kita telah sedikit mulai tergambar, apa sebenarnya pedoman Ummat Islam dalam hidupnya, dan apa tujuan Ummat Islam berpegang kepada al-Quran dan as-Sunnah, tiada lain hanya untuk keselamatan dunia dan akhirat.
Sedangkan filsafat bermula dari sebuah pertanyaan Thales yang menanyakan tentang "apa yang menajdi bahan dari alam semesta ini" sehingga semua ikut memikirkan bahan apakah yang membuat adanya langit, bumi, dan planet-planet lainnya. Dan diikuti pula oleh filosof-filosof lainnya seperti Socrates yang ajaran beliau banyak kesamaan dengan ajaran para nabi sebelum nabi muhammad seperti, meyakini adanya sang pencipta dari alam semesta ini, tidak bermula dengan sendirinya, meyakini adanya hari kebangkitan setelah semua manusia melepaskan nafas terakhirnya, dan meyakini adanya kehidupan selain kehidupan duniawi.
Tak cukup kiranya kalau penulis paparkan secara keseluruhan tentang sejarah filsafat, tapi kiranya hal ini cukup refresentatif buat kita dan akan mempunyai gambaran khusus dari sekilas kronologis antara filsafat dan agama (Islam), bahwa apakah betul keduanya tak bisa menyatu seperti air dan susu, padahal esensi al-Quran yang Tuhan telah berikan kepada manusia adalah untuk menjadi bahan pikiran, perenungan, bukan hanya diterima dan dibaca secara teks saja, dan redaksi dalam teks al-Quran yang mempunyai makna-makna kontekstual akan dapat mengukur kemampuan manusia dalam menafsirkan teks tersebut.
Seperti al-Kindi menafsirkan al-Quran dalam surat al-Rahman: 6 yang berbunyi, Bintang-bintang dan pepohonan bersujud kepada Allah. al-Kindi menunjukan apabila menafsirkan secara tepat, ayat tersebut bisa menjelaskan betapa segala sesuatu, termasuk yang di angkasa luar, bersembah sujud kepada Allah. Terlepas dari sana, maka eksistensi filsafat dalam Islam sangat signifikan untuk membantu berbagai problematika yang terjadi dalam tubuh umat Islam bukan sebaliknya. mengapa mesti memisahkan filsafat dari Islam.
Dua jalan Kebenaran
Islam adalah agama (syari'at), sedangkan filsafat adalah disiplin ilmu yang dalam substansinya memprioritaskan kedudukan akal, bukankah Tuhan telah memberikan beberapa stetment dalam al-Quran sebagai berikut, agar manusia selalu berpikir terhadap sesuatu yang Tuhan ciptakan seperti, la'allakum ta'qilun (al-baqarah: 73), in kuntum ta'qilun (al-Imran: 118) inna fii dzalika laayaatin liqaumin ya'qilun (ar-Ra'd: 4) dan kadzalika nufashilul aayaati liqaumin ya'qilun (ar-Rum: 28). Demikianlah Tuhan telah menyebutkan beberapa kali dalam al-Quran dengan kalimat al-'Aql untuk manusia selalu berpikir, merenungi tentang segala sesuatu-Nya.
Para filosof tidak bermaksudkan menghapuskan agama, melainkan ingin menyucikannya dari apa yang mereka pandang sebagai unsur-unsur primitif dan parokial, mereka tidak punya keraguan tentang keberadaan Tuhan, tetapi merasa bahwa hal ini perlu dibuktikan secara logis untuk memperlihatkan bahwa Allah selaras dengan nilai rasionalistik yang mereka pegang, para filosof percaya bahwa Tuhan adalah akal murni.
Sebagaimana George Hegel dalam theologisnya lebih mengedepankan rasionalistik dalam mencari suatu konklusi yang mendekati kebenaran, begitu juga Abu Nasr al-Faraby menerima rasionalisme filosofis tentang perbedaan yang nyata dalam visi al-Quran dengan realitas, di sini al-Faraby berpendapat bahwa, memandang filsafat sebagai cara yang lebih unggul untuk memahami kebenaran yang telah diekspresikan pada nabi secara metaforis dan puitis agar dapat menarik orang banyak.
Kaum Sufi Muslim dan kabbalis yahudi tak pernah memandang falsafah dan akal bertentangan dengan agama, mereka justru sering menemukan bahwa pandangan para filosof merupakan inspirasi bagi bentuk keagamaan mereka yang lebih imajinatif.
Satu hal yang menarik bagi kita bahwa polemik antara akal dan agama selalu ada, seperti Ibnu Sina memandang seorang nabi, seperti Muhammad lebih tinggi derajatnya daripada filosof manapun karena dia tidak bergantung kepada akal manusia, tetapi memperoleh pengetahuan langsung dan intuitif dari Tuhan. Seperti dikatakan oleh kaum Isma'ili bahwa para filosof terlalu memusatkan perhatian pada unsur-unsur eksternal dan rasionalistik agama dan mengabaikan inti spiritualnya.
Al-Ghazaly berpendapat bahwa wahyu (al-Quran) yang dijadikan pijakan kaum Muslimin tidak hanya menjelaskan sesuatu yang masih diperdebatkan para filosof, akan tetapi wahyu (al-Quran) lebih luas penganalisaannya tentang segala aspek hidup manusia, dalam arti kata lain, sesuatu yang belum terpikirkan oleh manusia, terlebih dahulu al-Quran tengah menyajikannya sedemikian rupa tentang hal tersebut.
Dari akal manusia yang selalu berpikir, merenung terhadap segala keberadaan posisi agama, akan mengambil sikap yang jelas tentang efek yang membidas klaim tentang keduanya, dari sini terbukti akal adalah aktivitas manusia yang paling mulia, ia adalah bagian dari akal ilahi dan jelas memiliki peran penting dalam menjawab persoalan keagamaan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Sina bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual mengemban tugas untuk menemukan Tuhan melalui akal, karena akal dapat membalus konsepsi tentang Tuhan serta membebaskannya dari takhayul dan antropomorfisme. Wallahu'alm bi as-Shawwaf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar