Sabtu, 09 Februari 2008

Mencari Tuhan

Harian Republika, 29 Nov 1998
http://www.republika.co.id/9811/29/29buku.051.html

Ketika Alquran, Filsafat, dan Sains 'Mencari' Tuhan

Apakah sesungguhnya esensi alam semesta itu? Kapan ia diciptakan? Dari apa
ia diciptakan? Siapa yang menciptakannya? Bagaimana pula pencipta itu
menciptakannya? Semua pertanyaan bernada filosofis itu pada hakekatnya
diajukan untuk mempertanyakan eksistensi Tuhan. Sepanjang sejarah,
pertanyaan-pertanyaan itu memang senantiasa menggayuti manusia. Karena itu,
sejarah manusia tak pernah sunyi dari para pencari Tuhan. Dalam proses
pencarian itu, manusia menggunakan berbagai perangkat mulai filsafat, agama,
sampai sains. Buku yang mengambil pola dialog ini berkisah tentang upaya
manusia -- dari filosof klasik (Yunani maupun Muslim) sampai filosof
modern -- mencari Tuhan.

Buku yang bisa dibilang merupakan novel ini diawali dengan keresahan jiwa
Hayran bin al-Adh'af al-Ma'i, mahasiswa Universitas Peshawar, Pakistan.
Keresahan itu berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang asal-muasal
alam semesta seperti yang disebut di atas. Keresahan tersebut kemudian
mengantarkan Hayran kepada Syaikh al-Mawzun. Lewat dialog antara Hayran dan
Syaikhnya (gurunya) itulah kisah para pencari Tuhan mengalir.

Kepada Hayran, Syaikh pertama-tama mengisahkan bagaimana para filosof
klasik -- mulai Thales hingga Epicurus -- mencari Tuhan. Dalam pencarian
itu, para filosof tersebut menggunakan perangkat akal (filsafat). Dengan
perangkat itu segala perenungan dan pergolakan pemikiran para filosof tadi
bermuara pada kepercayaan akan eksistensi Zat yang azali dan qadim. Dari
situ Syaikh berkesimpulan bahwa esensi filsafat adalah mencari Tuhan.

Sayang, pergolakan pemikiran para filosof klasik itu berhenti hanya pada
kesimpulan bahwa Tuhan itu ada. Ketika mereka mencoba memahami hakikat Tuhan
Yang Mahaesa itu, rasio mereka tak mampu mencapainya. Seorang filosof
Xenophanes mengatakan bahwa mustahil akal mampu mengetahui hakikat Tuhan.

Syaikh kemudian menjelaskan upaya para filosof Muslim -- dari ar-Razi sampai
al-Ghazali -- mencari Tuhan. Namun, sebagaimana filosof Yunani klasik,
filosof Muslim ini tak juga mampu menyelami kedalaman eksistensi Tuhan.
Sebagaimana Xenophanes, Ibn Khaldun juga mengakui bahwa akal acap harus
berhenti dan tak bisa melampaui kemampuannya yang, bagaimanapun, terbatas.

Pada situasi seperti inilah Alquran datang ''membantu''. Dalam buku ini
''kerjasama'' antara filsafat dan Alquran tampaknya terungkap dalam kisah
tentang Hayy bin Yaqazhan yang diceritakan filosof Ibn Thufayl.

Hayy bin Yaqazhan adalah bayi yang dibuang ke pulau yang tak berpenghuni.
Dengan mengandalkan kemampuan logikanya, Hayy bin Yaqazhan menghabiskan
sebagian hidupnya untuk memikirkan keberadaan Tuhan. Hayy bin Yaqazhan
memang berhasil menemukan Tuhan. Namun, sebagaimana para filosof, akalnya
tak mampu menjelaskan hakikat Tuhan. Ia pun akhirnya hanya bisa pasrah dan
senantiasa meleburkan diri dalam 'kegaiban' Tuhan sampai ia bertemu dengan
Absal.

Absal adalah saudara Salman. Keduanya sama-sama menjadi pengikut agama baru,
Islam. Namun, Absal lebih tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan alam
akhirat sedangkan Salman pada hal-hal yang bersifat lahiriah.

Dengan maksud menjalankan syariat agama baru itu, Absal pergi ke pulau
tempat Hayy bin Yaqazhan hidup. Ketika mendengar penjelasan Hayy bin
Yaqazhan tentang eksistensi Tuhan, Absal berkesimpulan bahwa semua yang
terdapat dalam syariat sama dengan apa yang diperoleh melalui akal-pikiran.

Meski tak mampu menembus lebih jauh kesempurnaan Tuhan, yang terpenting
adalah bahwa filsafat telah mampu mengantarkan manusia pada keyakinan akan
keberadaan Tuhan. Karena itu, sesungguhnya tak ada kontradiksi antara
filsafat dan Alquran dalam penetapan eksistensi serta keesahan Tuhan.
Filsafat yang benar tak berlawanan sama sekali dengan agama yang benar dalam
penetapan eksistensi Allah dan keesaan-Nya.

Dengan demikian, dalam bahasa Ibn Khaldun, filosof dan nabi punya tujuan
yang sama: memikirkan dan mencari Tuhan. Perbedaannya hanya terletak pada
cara yang mereka tempuh dalam upaya tersebut. Pada satu titik, pemikiran
mereka mencapai puncaknya yang kemudian akan mengantarkan mereka pada dua
kedudukan: apakah akan melanjutkan pemikiran tentang berbagai eksistensi
Tuhan ataukah perkara-perkara ketuhanan datang kepada mereka. Mereka yang
memperoleh kedudukan pertama disebut filosof, sedangkan yang kedua disebut
nabi. Jika ''dipertemukan'' pemikiran nabi dan filosof saling bersesuaian
dan saling membenarkan.

Untuk menguatkan pernyataan Ibn Khaldun itu, Syaikh mengutip perkataan
Descartes, Pascal, serta Alquran. Descartes berkata, ''Saya ini ada. Lalu,
siapa yang mengadakan dan menciptakan saya? Saya tidak (mungkin) menciptakan
diri saya sendiri. Oleh karena itu, ada yang menciptakan diri saya. Zat yang
menciptakan ini, mau tidak mau, eksistensinya bersifat wajib (mutlak).
Dialah Tuhan, itulah Allah yang menciptakan semua yang ada.''

Pascal berkata,''Mungkin sekali bagi saya untuk tidak ada seandainya ibu
saya telah meninggal dunia sebelum saya dilahirkan hidup-hidup. Oleh karena
itu, saya bukanlah suatu eksistensi yang mutlak (wajib). Jadi, harus ada
eksistensi mutlak yang menjadi sandaran eksistensi saya, yaitu Tuhan.''

Sedangkan Alqur'an mengungkapkan,''Apakah mereka diciptakan karena sesuatu
yang lain ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)'' (QS
52:35).

Kemudian, Syaikh membahas sejumlah fenomena alam semesta. Syaikh antara lain
menjelaskan ihwal luas langit. Berdasarkan sains, ada bintang Andromeda yang
berjarak satu juta tahun cahaya (1.000.000 x 6.000.000.000.000 mil) dari
bumi. Diperkirakan masih ada benda langit lain yang berjarak lebih jauh
lagi. Dengan perkataan lain, langit itu sangat luas. Ini sejalan dengan
firman Allah: Langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami); sesungguhnya
kami pun benar-benar meluaskannya (QS 51:47). Dari situ tampak jelas tak ada
kontradiksi antara sains dan agama (Islam).

Buku ini dengan demikian membuktikan bahwa tak ada kontradiksi antara
Alquran, filsafat, dan sains dalam hal keimanan kepada Tuhan. Tak berlebihan
kalau buku ini menyebut dirinya sebagai buku yang berisi dialog Alquran,
filsafat, dan sains dalam bingkai keimanan.

Buku ini dalam beberapa segi bisa dikatakan lebih menarik ketimbang buku
filsafat karya Jostein Gaarder, Dunia Sophi (Mizan, Bandung, 1996) yang juga
berbentuk novel. Pertama, dari segi metode, buku yang mengambil bentuk
dialogis ini praktis lebih menarik. Dalam Dunia Sophi, beberapa materi
filsafat diajarkan lewat surat karena itu bersifat lebih monolog. Kedua,
buku ini lebih fair. Selain menampilkan filosof Barat, buku ini juga
menampilkan para filosof Muslim. Dunia Sophi hanya menampilkan filosof
barat. Padahal, sebagaimana ditunjukkan buku ini, banyak filosof Barat yang
''belajar'' dari filosof Muslim. Ketiga, buku ini mengambil tema filsafat
yang lebih spesifik: pencarian Tuhan. Keempat, instrumen pencarian Tuhan itu
lebih beragam dari filsafat, Alquran sampai sains.

Sayang, buku ini tak menampilkan filosof yang terang-terangan mengingkari
keberadaan Tuhan, semisal Karl Marx, Hegel, Engels, dll. Jika buku ini
menampilkan mereka dan kemudian berhasil ''mematahkan'' pemikiran mereka,
wacana pencarian Tuhan ini pasti lebih menarik.

Namun, bagaimanapun, buku ini -- serta tentu saja buku Dunia Sophi --
merupakan buku filsafat dengan motode penyampaian yang unik. Lewat kedua
buku, filsafat praktis menjadi ilmu yang mengasyikkan serta lebih mudah
dipelajari. Lewat keduanya, filsafat tak lagi membuat dahi berkernyit
tatkala mempelajarinya.

Tidak ada komentar: