Kamis, 15 Mei 2008

Orang-orang Romantis

Qais sebenarnya tidak harus bunuh diri. Hidup tetap bisa dilanjutkan tanpa Layla. Tapi itulah masalahnya. Ia tak sanggup. Ia menyerah. Hidup tak lagi berarti baginya tanpa Layla. Ia memang tidak minum racun. Atau gantung diri. Atau memutus urat nadinya. Tapi ia
membiarkan dirinya tenggelam dalam duka sampai nafas terakhir. Tidak bunuh diri. Tapi jalannya seperti itu.

Orang-orang romantis selalu begitu: rapuh. Bukan karena romantis mengharuskan mereka rapuh. Tapi di dalam jiwa mereka ada bias besar. Mereka punya jiwa yang halus. Tetapi kehalusan itu berbaur dengan kelemahan. Dan itu bukan kombinasi yang bagus. Sebab batasnya jadi kabur: kehalusan dan kelemahan jadi tampak sama. Qais lelaki yang halus. Sekaligus lemah.
Kombinasi begini membuat banyak orang-orang romantis jadi sangat rapuh. Apalagi saat-saat menghadapi badai kehidupan. Misalnya ketika mereka harus berpisah untuk sebuah pertempuran. Maka cinta dan perang selalu hadir sebagai momen paling melankolik bagi orang-orang romantis. Mengerikan. Tapi tak terhindarkan. Berdarah-darah. Tapi tak terelakkan. Itu dunia orang-orang jahat. Dan orang-orang romantis hanya datang kesana sebagai korban.

Begitu ruang kehidupan direduksi hanya ke dalam kehidupan mereka berdua dunia tampak sangat buruk dengan perang. Tapi kehidupan punya jalannya sendiri. Ada kaidah yang mengaturnya. Dan perang adalah niscaya dalam aturan itu. Maka terbentanglah medan konflik yang rumit dalam batin mereka. Dan orang-orang romantis yang rapuh selalu kalah. Itu sebabnya Allah mengancam orang-orang beriman: kalau mereka mencintai istri-istri mereka lebih dari cinta mereka kepada jihad, maka Allah pasti punya urusan dengan mereka.

Tapi inilah persoalan inti dalam ruang cinta jiwa. Jika cinta jiwa ini berdiri sendiri, dilepas sama sekali dari misi yang lebih besar, maka jalannya memang biasanya ke sana: romantisme biasanya mengharuskan mereka mereduksi kehidupan hanya kedalam ruang kehidupan mereka berdua saja, karena di sana dunia seluruhnya hanya damai, di sana mereka bisa menyembunyikan kerapuhan atas nama kehalusan dan kelembutan jiwa. Itu sebabnya cinta jiwa selalu membutuhkan pelurusan dan pemaknaan dengan menyatukannya dengan cinta misi. Dari situ cinta jiwa menemukan keterarahan dan juga sumber energi. Dan hanya itu yang memungkinkan romantisme dikombinasi dengan kekuatan jiwa. Maka orang-orang romantis
itu tetap dalam kehalusan jiwanya sebagai pecinta, tapi dengan kekuatan jiwa yang tidak memungkinkan mereka menjadi korban karena rapuh.

Ketika kabar syahidnya syekh Abdullah Azzam disampaikan kepada istri beliau, janda itu hanya menjawab enteng, " Alhamdulillah, sekarang dia mungkin sudah bersenang-senang dengan para bidadari."

sumber: Majalah Tarbawi, Oktober 16, 2006

Jangan Bedakan Ilmu Pengetahuan

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa menuntut ilmu pengetahuan adalah wajib hukumnya, baik itu ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Ad-din (baca: Akhirat) maupun ilmu-ilmu yang ada hubunganya dengan dunia dan jangan sampai membedakan diantara kedua ilmu tersebut.

Cuma yang harus kita prioritaskan terlebih dahulu adalah ilmu-ilmu yang menyangkut dengan urusan-urusan keagamaan, yaitu ilmu Tauhid (akidah), Fiqih (ibadah-syariah), akhlak (tata krama). Karena ketiga disiplin keilmuan ini merupakan hal yang sangat fundamental dalam agama kita. Tanpa mengetahui ilmu tauhid tidak mungkin seseorang itu dikatakan seorang muslim yang sempurna karna semua taklimat yang tertuang dalam ilmu ini menyangkut dengan masalah keimanan dan ketauhidan terhadap Allah SWT dan itu merupakan perkara pertama yang patut diketahui oleh setiap muslim. Dan begitu juga dengan ilmu fiqih, tanpa memahami ilmu fiqih dengan baik maka semua praktek-praktek keagamaan menjadi tidak sempurna, baik itu dari segi bersuci/thaharah, sembahyang dan hal-hal lainya yang menyangkut dengan masalah ibadah.

Setelah memahamai ketiga disiplin keilmuan tersebut diatas barulah kita mempelajari ilmu-ilmu yang sifatnya fardu kifayah yaitu ilmu-ilmu yang fungsinya sebagai pelengkap untuk menyempurnakan amal ibadah serta keimanan kita, bahkan dalam situasi dan kondisi tertentu mempelajari ilmu-ilmu yang bersifat fardu kifayah itu menjadi wajib hukumnya dalam mencapai maslahah-maslahah yang terjadi di dalam masyarakat.

Namun yang menyedihkan kita hari ini adalah orang-orang yang berkecimpung dalam mempelajari ilmu-ilmu keduniaan, mereka melupakan bahkan tidak mengambil berat terhadap ilmu-ilmu agama yang sifatnya sangat fundamental sehingga lahirlah di tengah-tengah masyarakat orang yang berilmu, akan tapi lemah dari segi keimanan terhadap Allah swt. Begitu pula sebaliknya orang-orang yang mempelajari ilmu agama membenci ilmu-ilmu yang bersifat keduniaan dengan alasan tidak banyak memberi faedah dan maslahah di akhirat kelak. Kalaulah semuanya sadar dan mau berfikir secara matang, sebenarnya diantara kedua disiplin keilmuan itu tidaklah saling kontradiksi antara satu dengan yang lain karena kita sekarang hidup di dunia, maka untuk menjalani kehidupan ini, kita membutuhkan ilmu-ilmu yang ada hubungan dengan keduniaan itu sendiri. Jadi dengan kata lain, mana mungkin kedua hal ini dapat kita pisahkan satu sama lain!!

Nah, sekarang marilah kita sama-sama mengikis cara berfikir yang penuh dengan kejumudan itu, demi melahirkan generasi yang berilmu dan beramal soleh yang seimbang dunia dan akhirat dengan cara menggabungkan kedua disiplin keilmuan yang ada tanpa membedakan diantara keduanya.

Sebagi penutup, alangkah baiknya kita merenungi pepatah Arab yang berbunyi “ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah” karena Ilmu dan amal adalah dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan. Maka dari itu hendaklah kita mengamalkan ilmu yang telah kita perolehi dengan men-tathbiq-kannya dalam diri masing-masing terlebih dahulu dan seterusnya menyampaikan kepada orang lain. Jadilah syakhshiyah yang berilmu yang selalu mewarnai keadaan, jangan sampai menjadi orang yang diwarnai dan terwarnai dengan keadaan.

Allahumma Nauzubika min Ilmin la yanfa’ birah matika Ya Arhamarrahimin.
Wallahu ‘alam bissowab.

Wednesday, 20 June 2007

Menyikapi Perbedaan

Perbedaan pendapat merupakan sunnatullah di muka bumi ini, sebab banyak faktor kenapa manusia selalu berbeda. Mulai dari berbedanya alur pemikiran manusia itu sendiri sampai kepada pemahaman-pemahaman terhadap nash-nash Al-quran dan hadits yang sudah ada. Yang pasti perbedaan dan keragaman itu hal yang pasti yang sudah diciptakan oleh Allah melalui fenomena Alam. Sebab kalau Allah mau, Allah bisa buat seragam sehingga semuanya manusia menjadi makhluk beriman. Keragaman adalah kehendak Allah. Penyeragaman adalah penentangan terhadap kehendak itu. Penolakan terhadap perbedaan dan keragaman sama saja penolakan terhadap perbedaan kelamin! Masak sih anda maunya di dunia ini perempuan saja, tidak ada laki-lakinya. Susah dong, jika tidak boleh dikatakan mustahil bin tidak mungkin. Namun yang dituntut dari kita adalah bagaimana menyikapi perbedaan itu dengan baik dan bijak.

Secara umum, segala yang ada dalam Islam bisa dibagi dalam dua klasifikasi:
1. Sesuatu yang sudah fixed, tidak bergerak, statis dan kadang bersifat universal.
2. Ada yang masih bisa di “rubah”, dipengaruhi oleh kondisi ruang dan waktu.
Yang pertama, dalam terminologi disiplin keislaman, disebut dengan "ma'lum min al din bi al dharurah" yaitu sesuatu yang sudah fixed dan tidak bisa dirubah-rubah. Sebotak apapun anda jangan coba-coba untuk merubahnya, kecuali kalau anda mau dituduh nyeleneh, liberal, pluralis dan bahkan kafir dll. Termasuk dalam jenis ini adalah kewajiban shalat, kewajiban puasa Ramadhan dan beberapa hal lainnya yang mendasar.

Klasifikasi kedua adalah bahwa dalam Islam masih ada yang bisa di “rubah”, tidak harga mati. Dalam realitanya kalau anda baca buku-buku keislaman yang jumlahnya jutaan (kayak udah pernah ngitung aja !), anda akan sependapat dengan saya, bahwa kategori ini adalah kategori yang dominan dalam hukum Islam hingga saat ini. Bisa di “rubah” di sini disebabkan oleh, diantaranya:
1. Berbedanya akal fikiran dan kemampuan seseorang dalam meng-analisa suatu permasalahan yang timbul, baik yang berhubungan dengan nash-nash ayat Al-quran, Hadits maupun juga dengan tata bahasa arab itu sendiri.
2. Berbedanya lingkungan dimana seseorang tinggal, mungkin suatu hukum di tempat A bisa dipraktekkan, tapi hukum tersebut tidak cocok ditempat B. Seperti yang dilakukan oleh Imam As-Syafi’i, yang kita kenal dengan Qaul Qadim ketika beliau di Irak dan Qaul Jadid ketika di Mesir.
3. Kecondongan hati dalam menilai suatu dalil. Seperti satu hadits menurut imam fulan lebih kuat dibanding hadits yang lain disisi imam yang lain.
4. Dan masih banyak lagi, seperti suatu imam mendahulukan Hadits Ahad dibandingkan dengan yang lain dan begitulah seterusnya. Semuanya akan membawa konsekwensi yang berbeda yang membawa kepada perbedaan.

Pertanyaan sekarang adalah apakah berbeda pendapat itu dapat dikatakan bahwa ia merupakan rahmat bagi umat Islam? Tentunya jawaban atas hal ini selalu dilandaskan kepada sebuah hadits yang amat masyhur, yang menyatakan bahwa perbedaan pendapat itu adalah rahmat. Mungkin, sedikit penulis ingin mengulas tentang hadits tersebut dan kualitasnya. Hadist tersebut berbunyi:
اِخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ
“Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat.”
Hadits dengan redaksi seperti ini sebagai yang disebutkan Imam as Suyuthy dalam bukunya: Ad-Durar al-Muntatsirah Fi al-Ahâdîts al-Musytahirah dan Al-Jami’ as-shoghir fi Ahadits al basyir an-Nazir diriwayatkan oleh Syaikh Nashr al-Maqdisiy di dalam kitabnya “al-Hujjah” dan al-Baihaqiy di dalam kitabnya “Ar-risalah Al-asy’ariyah” tanpa sanad. Dan perlu diketahui bahwa untuk menilai suatu hadis tersebut shoheh atau tidaknya yang pertama dikaji adalah sanad hadits (jalur transmisi hadits) dan setelah itu matan hadist.

Penahqiq (analis) buku Ad-Durar al-Muntatsirah Fi al-Ahadits al-Musytahirah, yaitu Syaikh Muhammad Lutfi ash-Shabbagh memberikan komentar: “Hadits ini kualitasnya Dha’îf (Lemah). As-Syaikh al-Albany dalam kitabnya Dha,if al-Jami’ (hadist no: 230) dan Silsilah al-Ahadits adha’ifah (hadits no: 57) mengatakan: (hadits ini) La ashla lahu (tidak diketahui sumbernya). Imam as-Sakhawi dalam kitabnya Faydl al-Qadir, jld.I, h.209-212, menukil pendapat imam as-Subki, beliau berkata: “(Hadits ini) tidak dikenal di kalangan para ulama hadits dan saya tidak mengetahui ada sanad yang shahih, dla’if atau mawdlu’ mengenainya.”

Menurut Syaikh Muhammad Luthfi “Perbedaan pendapat itu bukanlah rahmat tetapi bencana akan tetapi ia merupakan hal yang tidak bisa dihindari sehingga yang dituntut adalah selalu berada di dalam koridor syari’at dan tidak menjadi sebab perpecahan, perselisihan dan perang”.
Sekarang dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan dalam masalah furu’iyyah adalah suatu keniscayaan dan mustahil hal tersebut bisa disatukan dan akan mengurangi nature agama Islam itu sendiri.Tugas kita selanjutnya sebagai manusia akademis adalah menerangkan kepada masyarakat awam yang ngamuk karena ta’asub/panatik kepada mazhab tertentu, kelompok, kiyai, guru, tokoh dll, bahwa anda bisa berbeda pendapat tanpa harus bermasam muka, tonjok-tonjokkan. Pada dasarnya, ini cuma masalah sikap kita dalam menanggapi perbedaan dan keragaman, jangan sampai dalam menyikapi perbedaan itu anda memutuskan hubungan silaturrahmi yang disebabkan hanya masalah perbedaan yang tidak terlalu mendasar karena silaturrahmi merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam Islam itu sendiri. Wallahuallam bhishowab.

Faktor-faktor Kelemahan Ummat Islam

Muqaddimah

Setelah runtuhnya khilafah Usmaniyah di Turki pada tahun 1924 kekuatan ummat Islam semakin melemah, disebabkan ummat Islam terbagi kepada berberapa negara terpisah. Bahkan kini terbagi menjadi 57 negara Islam berdaulat, yang mana setiap negara tersebut memiliki wilayah teritorial tersendiri. Padahal pada mulanya, ummat Islam memiliki satu negara (baca: Khilafah) dibawah satu payung kepemimpinan.

Slogan-slogan yang digaungkan oleh sebagian ummat Islam beserta intelektualnya, seperti “Islam huwal hal”, “Mustaqbal Lil Islam”, “Islam is Solution” yang pada intinya mereka mempercayai agama Islam sebagai way of life. Tapi disamping itu, kita juga sering mendengar keluhan dan rasa pesimis dari ummat Islam yang lain terhadap kemunduran dan kejumudan yang terjadi di tubuh ummat ini dengan dalil bahwa “Islam itu lemah”, “Kita ketinggalan dari Barat”, “Rasanya tidak mungkin untuk mempraktekkan Islam pada zaman sekarang ini”.

Sebenarnya, ketika berbicara tentang kelemahan ummat Islam, maka kita harus dapat membedakan antara penganut agama Islam (baca: orang muslim) dengan Islam sebagai agama. Karena keduanya mempunyai perbedaan yang sangat jauh sekali. Salah dalam memahami kedua musthalahat ini akan mengakibatkan kesalahan besar dalam mentafsirkan hakikat makna dari kelemahan itu sendiri.

Islam sebagai agama sampai kapanpun akan kuat dan kekal, karena Islam memiliki manhaj yang jelas lagi terang dan tidak membutuhkan penambahan atau pengurangan dari luar Islam. Dan penulis yakin, bahwa semua orang Islam mempercayai hal tersebut. Tapi lain halnya dengan istilah “Orang Islam”, mereka adalah orang-orang yang mengaku beragama Islam dan terlepas dari mengamalkan Islam itu sendiri baik dalam kehidupan sehari-hari atau sebaliknya. Yang jelas Islam sebagai agama, lepas dari tanggungjawab tersebut.

Nah, dalam makalah singkat ini Penulis ingin mendiskusikan hal tersebut dihadapan teman-teman semua, termasuk faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kelemahan ummat Islam? dan apa solusi yang terbaik untuk mengatasi kelemahan tersebut? sehingga untuk melangkah ke depan kita sudah mempunyai gambaran yang jelas dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Definisi Kelemahan Ummat Islam

Kelemahan yang dimaksud di sini adalah suatu keadaan dalam masyarakat yang tidak diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya. Sehingga misi dan ajaran agama tidak berjalan sebagai mana mestinya.

Faktor-faktor Kelemahan Ummat Islam

Tidak diragukan lagi bahwa kekuatan ummat Islam berdiri di atas agama Islam itu sendiri. Hal ini juga sudah menjadi rahasia umum, bahkan musuh-musuh Islam juga tahu bahwa Islam itu sendiri tidak dapat dilemahkan jika penganut-penganutnya masih mempunyai keimanan yang kuat. Dari sini mulailah mereka mencari jalan dan cara yang terbaik bagaimana untuk melemahkan pemahaman orang Islam terhadap Islam itu sendiri. Tidak sampai disitu, mereka juga mencari jalan bagaimana memberi keraguan kepada kitab yang menjadi pegangan ummat Islam (baca: Al-Qur'an dan As-sunnah), dan mereka juga memutar belitkan fakta Sejarah dan Tsaqafah Islamiyah melalui berbagai opini dan tulisan, sehingga generasi ummat Islam berikutnya menjadi ragu atas keotentikan agama Islam itu sendiri.

Kalau kita mengkaji lebih dalam lagi tentang pergerakan orientalisme dan karya-karya mereka tentang Islam, maka kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa keganjilan-keganjilan yang diciptakan oleh mereka pada intinya untuk memberi keraguan kepada ummat Islam terhadap agama yang mereka anut, sehingga mengakibatkan ummat Islam pada saat ini banyak yang termakan racun orientalisme. Sebut saja misalnya, dalam sebuah seminar keIslaman yang diadakan oleh organisasi Islam di Yogyakarta, salah seorang pemakalah yang berfikiran liberal memegang Al-quran dengan kedua jarinya dan mengatakan “Siapa yang berani menjamin bahwa al-Quran yang saya pegang ini benar-benar berasal dari Allah SWT”1

Sebenarnya banyak faktor kenapa ummat Islam menjadi lemah seperti sekarang ini? Di antara penyebabnya adalah:

Kurang Memahami Agama Islam itu sendiri

Sebagian ummat Islam kurang memahami hakikat agama Islam itu sendiri. Ia cenderung dipahami sebatas ibadah-ibadah ritual saja. Seperti: sholat, zakat, puasa dan haji. Sedang permasalahan diluar hal tersebut dianggap bukan bagian dari Islam. Dan ada juga yang memahami agama ini dengan pemahaman ajaran Hindu yang meyakini bahwa hidup ini harus dijalani dengan serba kekurangan dan dalam keadaan susah. Artinya untuk mencapai suatu tingkat pemahaman agama yang benar, seseorang dituntut untuk bertapa atau bermeditasi dan menyendiri dari keramaian.

Hal ini menurut hemat penulis adalah pemahaman yang salah atas agama itu sendiri. Dalam sejarah, kita lihat Rasulallah shallalahu ‘alaihi wasalam pernah menyendiri (berkhalwat) di gua Hira untuk beberapa waktu, tetapi setelah wahyu turun, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasalam tidak pernah kembali lagi ke gua tersebut. Hal ini menunjukan bahwa hidup harus berbaur dengan masyarakat dan tidak boleh hidup menyendiri.
Pergerakan Kristenisasi

Percaya atau tidak, bahwasanya hakikat kelemahan ummat Islam juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, dengan kata lain bukan hanya dari kalangan ummat Islam itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat dengan pergerakan Kristenisasi di dunia Islam yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan. Sudah puluhan ribu - bahkan jutaan - ummat Islam di seluruh dunia yang berganti agama. Hal ini tidak cukup dengan hanya memberi alasan bahwa ummat Islam hidup dalam keadaan miskin, sehingga mudah dirayu dan dijanjikan dengan materi. Saudara kita yang miskin - dalam masalah ini - tidak perlu disalahkan, karena untuk mempertahankan hidup mereka butuh makan bagi keluarga dan memenuhi kebutuhan lainya. Yang menjadi masalah adalah pergerakan Kristenisasi yang ada sekarang ini.

Pemimpin-pemimpin Ummat Islam Berfikiran Sekuler

Rata-rata pemimpin-pemimpin ummat Islam hari ini berpaham sekuler, yang berdampak banyaknya keputusan dan kebijakan yang dikeluarkan bertentangan dengan ajaran agama Islam dan terkadang merugikan ummat Islam itu sendiri, sehingga tanpa disadari mengokohkan posisi musuh-musuh Islam yang ada di negara mereka. Contoh kecil, ketika Khilafah Usmaniyah runtuh di Turki tahun 1924, kekuasan diambil alih oleh Mustafa Kamal Attartuk. Di bawah kekuasaan beliau, azdan ditukar ke dalam bahasa Turki, tulisan yang pada awalnya memakai huruf Arab ditukar dengan huruf latin.

Bagaimana Membangun Kembali Kekuatan Islam

Setelah kita mengetahui faktor-faktor kelemahan ummat Islam, timbul beragam pertanyaan, bagaimana membangun kembali kekuatan ummat Islam? Di bawah ini penulis mencoba mengetengahkan beberapa solusi yang mudah-mudahan menjadi bahan renungan bersama.
Mengetahui sebab-sebab lemahnya ummat Islam dan mencari jalan keluarnya.

Di antara sebab-sebab lemahnya ummat Islam telah kita bicarakan di atas, hanya ada beberapa perkara yang amat penting untuk disampaikan. Pertama: berkembangnya pemikiran-pemikiran non Islam di kalangan masyarakat orang Islam. Kedua: masalah pendidikan di negara Islam yang masih mengikuti kurikulum dari penjajah. Ketiga: Keadaan masyarakat ummat Islam yang hidup dengan gaya bukan Islam bahkan kadang-kadang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Persatuan umat Islam.

Asas kekuatan adalah persatuan dan kesatuan ummat Islam itu sendiri. Hal ini telah disampaikan oleh Allah SWT dalam al-Qur'an “Berpegang teguhlah kepada tali-tali Allah dan janganlah kamu berpecah belah” (QS. Ali Imran: 103). Dalam ayat lain diterangkan “Janganlah kamu berbantah-bantah, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (QS. al-Anfal: 46).

Untuk merealisasikan kekuatan tersebut, maka kita dituntut oleh agama untuk bersatu padu dalam satu fikrah, barisan, negara, tujuan dan kekuatan. Penulis yakin, jika kita bisa bersatu dalam hal tersebut di atas maka kekuatan Islam akan kembali seperti semula.
Beramal mengikuti al-Quran dan al-Sunah.

Maksudnya adalah, hendaknya kita bersatu dan berhimpun dalam satu wadah keislaman yang berasaskan kepada Islam (baca: Al-Qur'an dan Assunnah), yang meliputi kepercayaan, perkataan, ataupun perbuatan, baik secara individu, keluarga, masyarakat dan negara. Karena ummat Islam wajib hukumnya mengamalkan ajaran agamanya dan sebaliknya haram bagi mereka beramal selain itu.

Penutup

Di akhir makalah ini dapat kita ambil kesimpulan, bahwa banyak hal yang menjadi faktor kelemahan ummat Islam, sedangkan kebanyakan ummat Islam tidak menyadarinya. Dua faktor paling dominan yang menjadikan ummat Islam lemah, yaitu faktor internal dan eksternal sebagaimana telah disebutkan.

Mudah-mudahan dengan mengetahui faktor kelemahan ummat Islam ini, minimal kita mempunyai gambaran dan menyadari bahwa sebagai ummat Islam, kita harus dapat merubah diri dan berbuat lebih banyak di masa yang akan datang untuk kepentingan agama Islam. Sesungguhya Allah bersama orang-orang yang menolong agama, seperti firman Allah “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah maka Allah akan menolong kamu dan menguatkan barisanmu” (QS. Muhammad: 7). Wallahu ‘alam bishowab.

Footnote
* Disampaikan dalam acara Tatsqif Musim Panas Pusat Informasi Partai Keadialan Sejahtera, seri kedelapan bertempat dihostel: 5 IIUI, pada tanggal: 3 Agustus 2005.
1 Kata Pengantar “The Islamic Invasion” buah karya Robert A. Morey, oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi, M.phil. Hal: 38.

Tidak ada komentar: