Rupanya pengikut dan pendukung ajaran Anand Krishna meliputi juga kalangan cendekiawan Islam, sebagaimana bisa dilihat dari pujian Dr. Nasruddin Umar, MA (Pembantu Rektor IV IAIN Jakarta), yang pada buku "Surah-surah Terakhir Al-Quranul Karim Bagi Orang Modern" banyak memberikan pujian.
Pujian yang diberikan Dr. Nasruddin tentu saja sangat mengherankan, karena pada kenyataannya, isi buku tersebut sangat menyesatkan, serta mengandung kebohongan besar tentang Nabi Muhammad SAW, yang oleh Anand Krishna (pada halaman 43) dituliskan seolah-olah Nabi Muhammad pernah mengatakan: "Aku adalah Ahmad tanpa mim. Berarti, akulah Ahad. Ia Yang Maha Esa! Juga aku adalah Arab tanpa 'ain. Berarti, akulah Rabb --Ia Yang Maha Pencipta, Maha Melindungi, Maha Menguasai!"
Pujian lain yang dituliskan Dr. Nasruddin Umar, MA banyak menghiasi halaman xii dan xvii serta xviii, sebagai berikut:
--halaman xii:
Keseimbangan sifat-sifat maskulinitas dan feminitas Tuhan terungkap secara elegan di ketiga surah ini.
Ini membuktikan bahwa pemahaman Al-Qur'an bukan hanya hak prerogatif sekelompok umat Islam tetapi Al-Qur'an betul-betul sebagai rahmat bagi semua (rahmatin lil 'alamin).
Komentar:
Rupanya tidak sekedar pujian yang meluncur dari Dr. Nasruddin, juga kesesatan yang sama. "Tuhan" digambarkannya memiliki sifat maskulin dan feminin yang seimbang, padahal kedua sifat itu hanya melekat pada makhluk.
Pengertian rahmatin lil 'alamin diselewengkan menjadi "siapa saja boleh menerjemahkan Al-Qur'an sesuai kemauannya".
--halaman xvii:
Ketiga surah ini mengingatkan manusia akan fungsinya sebagai hamba ('abid) dan sebagai representasi Tuhan di bumi (khalifatun fi al-ardh).
Komentar:
Manusia bukanlah representasi atau wakil Tuhan, tetapi hamba Allah. Justru dalam do'a safar (bepergian), Allah-lah sebagai khalifatuna, yang berarti pengganti atau wakil kami.
4. Beberapa Komentar
Untuk melengkapi makalah ini kami sajikan percikan pemikiran Anand Krishna dari beberapa bukunya, yang dirangkum staff LPPI.
a. Buku "Surah-surah Terakhir Al-Quranul Karim"
--halaman 8:
Baik dan buruk, dua-duanya berada dalam pikiran kita. Lalu, kita pula yang menghubung-hubungkan kebaikan dengan apa yang kita sebut "Tuhan dan kejahatan dengan apa yang kita sebut "setan".
--halaman 10:
Saya seorang penyelam. Apa salahnya jika saya menyelami lautan luas Al-Qur'an? Saya bukan seorang ulama, bukan seorang sastrawan, bukan pula seorang cendekiawan atau ahli filsafat. Kemampuan selam saya pun sangat terbatas. Namun dengan segala keterbatasan itu, saya menemukan betapa indahnya perut laut. Betapa indahnya "kandungan" Al-Qur'an. Saya ingin berbagi rasa, "Begini lho pengalamanku selama menyelami Al-Qur'an." Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang.
Komentar:
Al-Qur'an memerintahkan, agar mereka yang tidak mengerti harus bertanya kepada ahludz dzikir yaitu Ahli Al-Qur'an. Dalam hal ini, Anand Krishna termasuk yang tidak mengerti. Apalagi status formal keislamannya juga tidak jelas. Oleh karena itu, bagaimana ia bisa menyebut dirinya menyelami bila tidak punya peralatan menyelam?
Rasulullah bersabda: "Takutlah kamu pada hadits dariku kecuali apa-apa yang kamu ketahui. Maka barangsiapa yang dusta atasku dengan sengaja maka hendkalah menempati tempat duduknya di neraka, dan barangsiapa yang mengatakan tentang Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka." (HR At-Tirmidzi, juz 4, halaman 268).
--halaman 12-13:
"…Menurut pendeta itu, dia pun mulai menghormati ajaran Islam setelah membaca buku-buku Bapak (Anand Krishna --Ed.)."
"Bapak harus menulis lebih banyak tentang ajaran-ajaran Islam. Biar banyak lagi buku-buku yang bersifat universal."
"Hari ini, saya bisa mengatakan, saya mencintai Islam sebagaimana saya mencintai agama saya sendiri. Saya tidak perlu meninggalkan agama saya. Saya tidak perlu masuk agama Islam. Untuk menghormati Nabi Muhammad saya juga tidak perlu melepaskan keyakinan saya pada Yesus…"
Komentar:
Ini sangat menyesatkan. Antara lain mengandung pengertian, bahwa untuk mencintai Islam kita tidak perlu masuk Islam, atau ajaran Islam yang sebenarnya hanyalah menjadikan orang agar tidak perlu Islam.
--halaman 13:
"Bagi para pengkritik, saya hanya ingin menyampaikan satu hal. Jika lewat buku-buku yang anda anggap sangat "pop" dan "tidak cukup bermutu" ini, kita berhasil mempersatukan bangsa kita, jika kita berhasil membuat seorang Kristen mulai menghargai Islam dan seorang Muslim mulai menghargai Budha, dan seorang Budhis mulai menghargai Hindu, lalu apa salahnya?
Komentar:
Tujuan yang diandai-andaikan itu belum tentu terwujud. Dan kalau toh terwujud pun belum tentu Islam menginginkan sikap saling menghargai yang semu dan salah kaprah tersebut. Sementara itu, ketika andai-andai itu belum terwujud, yang sudah pasti adalah, Anand telah mengacak-acak pengertian Al-Qur'an, semaunya, tanpa landasan dan dalil yang benar. Jadi, yang dilakukan Anand bukan menghargai Islam, justru merusak Islam secara sengaja dan sistematis.
Dalam Al-Qur'an ditegaskan, ummat Islam berlepas diri dari kekafiran dan penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrikin, dan tegas-tegas ada pernyataan tentang permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Ibrahim As dan pengikutnya terhadap kaum kafir-musyrik: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekufuranmu) dan telah nyata antara kami dan kamu, permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja." [QS Al-Mumtahanah (60) ayat 4].
--halaman 14:
Buku-buku saya adalah hasil "kegelisahan" saya, "kekecewaan" saya terhadap bangsa kita yang sedang dilanda fanatisme kelompok dan agama.
Komentar:
Menjadikan Al-Qur'an dan Islam sebagai objek melampiaskan kegelisahan jelas tidak pada tempatnya. Apalagi bila "kegelisahan" yang dimaksudnya bertabrakan dengan Al-Qur'an. Fanatisme dalam Islam adalah wajib, sebagai pernyataan Nabi Ibrahim pada surat di atas. "Kegelisahan" yang bagaimana yang sebenarnya yang dimaksud Anand, sehingga ia merasa punya hak untuk menggunakan Al-Qur'an untuk menohok Al-Qur'an pula?
--halaman 16:
Dalam empat surah ini, Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, tersimpan rahasia Al-Qur'an. Inilah pesan Sufi, pesan Injil, pesan Zabur, pesan Taurat, pesan Vedanta dan pesan Budha. Ini pula pesan Islam!
Komentar:
Astaghfirullaahal 'Adhiem. Keempat surat itu adalah Kalamullah, ayat-ayat Allah. Bukan pesan Sufi. Bukan pesan Vedanta, dan juga bukan pesan Budha. Kalau Anand bertangung jawab, seharusnya ia tunjukkan secara rinci dan jelas, ayat mana yang merupakan pesan Sufi, Vedanta, dan Budha?
Kalau klaim Anand bukan klaim kosong semata, seharusnya ia mampu menunjukkan salah satu ayat dari empat surat itu yang benar-benar pesan Taurat, Injil dan Zabur. Lalu, tunjukkan pula dari mana ia mendapatkan keterangan itu.
Nampaknya Anand cuma bermaksud mengaduk-aduk dan mengacak-acak Al-Qur'an dengan pernyataan yang sama sekali tidak bisa ia pertanggung jawabkan. Lalu, benarkah Sufi itu ajarannya sesuai dengan Al-Qur'an sehingga Anand Krishna bisa mengatakan bahwa "inilah pesan Sufi?"
--halaman 21:
Bagi sheikh Baba (guru selam Anand Krishna), Malaikat Jibril adalah "Kesadaran Tinggi" dalam diri Sang Nabi, sewaktu-waktu ia bisa berkontak dengan "Kesadaran Tinggi" dalam dirinya dan memperoleh "tuntunan serta bimbingan" yang dibutuhkannya. Beliau (Sheikh Baba, guru selam Anand Krishna) pernah menjelaskan: "Kesadaran Tinggi dalam diri manusia adalah pancaran Kesadaran Murni yang disebut Allah, Tuhan, Ishwara, Ahura Mazda, atau Satnaam…"
Komentar:
Na'udzubillaahi min dzaalik. Secara gegabah Anand Krishna melandasi uraiannya tentang surat Al-Ikhlas dengan aqidah kemusyrikan, yaitu menyebutkan Malaikat Jibril sebagai "Kesadaran Tinggi" dalam diri Sang Nabi. Sedangkan "Kesadaran Tinggi" dalam diri manusia adalah pancaran "Kesadaran Murni" yang disebut (antara lain) Allah. Pernyataan tersebut jelas ngawur. Sebab Allah dan Jibril adalah dua dzat yang berbeda, Allah adalah Al-Khalik, pencipta Jibril. Sedangkan bila menuruti konsep Anand, Allah hanyalah "level yang lebih tinggi saja dari Jibril".
Ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam)
Masjid Al Ihsan lantai 3
Proyek Pasar Rumput
Jl. Sultan Agung, Manggarai, Jakarta Selatan 12970
Tel. (62-21) 828 1606
Tel. Rumah: (62-21) 315 4139
HP: 0812 932 0225
Tidak ada komentar:
Posting Komentar